H. Yovie Megananda Santosa S.H., M.Si (WAKETUM DPN PERADI): Idul Adha Momentum Memurnikan Hati, Mengikhlaskan Segala yang Dicintai
Breaking news

H. Yovie Megananda Santosa S.H., M.Si (WAKETUM DPN PERADI): Idul Adha Momentum Memurnikan Hati, Mengikhlaskan Segala yang Dicintai

May 27, 2026 5 min read
CMS Profile
Published on May 27, 2026
Last updated: May 27, 2026
H. Yovie Megananda Santosa S.H., M.Si (WAKETUM DPN PERADI): Idul Adha Momentum Memurnikan Hati, Mengikhlaskan Segala yang Dicintai

H. Yovie Megananda Santosa S.H., M.Si (WAKETUM DPN PERADI): Idul Adha Momentum Memurnikan Hati, Mengikhlaskan Segala yang Dicintai

Pengorbanan Bukan Sekadar Ibadah Lahiriah, Melainkan Ketulusan Batin dan Ketaatan Penuh kepada Allah SWT

SUMEDANG, 27 MEI 2026 – Hari Raya Idul Adha bukan sekadar perayaan atau ibadah yang tampak dari luar semata, melainkan momen suci untuk belajar makna pengorbanan sejati, keikhlasan yang murni, serta bukti cinta seorang hamba kepada Tuhannya. Pesan mendalam dan menyentuh kalbu ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) PERADI, H. Yovie Megananda Santosa S.H., M.Si, saat menyampaikan khutbah Idul Adha di Masjid Nurul Panunjang, Desa Padasuka, Kecamatan Sumedang Utara, di hadapan ribuan jamaah yang memenuhi tempat ibadah tersebut.

 

Tantangan Zaman: Pandai Berbicara, Namun Lupa Menjaga Hati

 

Dalam pemaparannya, beliau menyoroti realitas kehidupan masa kini yang semakin berkembang, di mana kemajuan seringkali membuat manusia semakin pandai merangkai kata, semakin fasih berbicara, dan terlihat sempurna di mata orang lain. Namun ironisnya, hal itu justru sering membuat mereka melalaikan penjagaan terhadap isi hati dan kesucian jiwa.

 

“Di zaman hari ini, manusia semakin pintar berbicara, namun semakin sulit menjaga hati. Media sosial penuh dengan pencitraan. Manusia berlomba terlihat bahagia, tapi diam-diam hatinya lelah dan hampa. Banyak yang kaya harta, namun miskin ketenangan. Banyak yang sukses jabatan, namun kehilangan rasa syukur,” ungkapnya dengan penuh perenungan.

 

Menurutnya, Idul Adha hadir untuk mengingatkan kita akan satu prinsip dasar yang sangat penting: tidak semua yang kita cintai harus kita miliki, namun segala sesuatu yang dititipkan Allah kepada kita, wajib kita pertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya.

 

Teladan Nabi Ibrahim AS: Ujian Terbesar Adalah Mengikhlaskan Apa yang Paling Dicintai

 

Beliau kemudian mengangkat kisah teladan agung Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sebagai cermin nyata bagi seluruh umat. Nabi Ibrahim diuji Allah bukan dengan kemiskinan atau kekurangan, melainkan dengan sesuatu yang paling beliau cintai, yaitu putra tercinta Nabi Ismail ‘alaihis salam. Hal ini menjadi pelajaran bahwa ujian terbesar bagi manusia seringkali bukan ketika kita kekurangan, melainkan ketika kita memiliki apa yang paling kita banggakan, paling kita sayangi, dan paling sulit untuk kita lepaskan demi kehendak Allah.

 

“Dan sering kali, ujian terbesar manusia bukanlah karena kekurangan, tetapi karena apa yang paling sulit ia ikhlaskan demi Allah,” tambahnya penuh makna.

 

Ketakwaanlah yang Sampai kepada Allah, Bukan Hanya Bentuk Lahiriahnya

 

Dalam penyampaiannya, H. Yovie juga mengingatkan akan hakikat ibadah yang sesungguhnya, sebagaimana tercantum dalam firman Allah SWT dalam Surah Al-Hajj ayat 37:

 

“لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ”

(Lan yanālallāha luḥūmuhā wa lā dimā’uhā wa lākin yanāluhut-taqwā minkum)

 

Artinya: “Daging dan darah kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang sampai kepada-Nya.”

 

Berdasarkan ayat mulia tersebut, beliau menegaskan bahwa Allah SWT tidak menilai manusia dari kemewahan yang dimiliki, besarnya harta, tingginya jabatan, atau mahalnya hewan kurban yang disembelih. Penilaian Ilahi jauh melampaui hal-hal lahiriah tersebut, melainkan tertuju pada kualitas batin dan ketulusan hati.

 

“Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, hari ini Allah tidak melihat seberapa mahal hewan kurban kita, seberapa besar rumah kita, seberapa tinggi jabatan kita. Tetapi Allah melihat hati yang bersih, lisan yang lembut, kesabaran yang kokoh, dan seberapa tulus kita kembali serta berserah diri kepada-Nya,” tegasnya.

 

Beratnya Hidup Bukan Karena Masalah, Tapi Karena Jauh dari Allah dan Rasa Syukur

 

Beliau juga menyentuh kondisi batin yang sering dirasakan banyak orang saat ini, di mana kesedihan, kepedihan, dan beban hidup seringkali bukan disebabkan oleh kekurangan materi atau kesulitan ekonomi, melainkan karena terputusnya hubungan batin dengan Sang Pencipta serta hilangnya rasa syukur dalam hati.

 

“Kadang manusia menangis bukan karena tidak punya apa-apa, tetapi karena hatinya terasa terlalu jauh dari Allah. Dan kadang hidup terasa begitu berat bukan karena masalah yang datang terlalu besar, tetapi karena hati kita telah kehilangan rasa syukur,” ujarnya menyentuh kalbu para hadirin.

 

Titik Balik Memperbaiki Diri dan Hubungan dengan Sesama

 

Di akhir pesannya, H. Yovie mengajak seluruh umat yang hadir di Masjid Nurul Panunjang maupun umat Islam pada umumnya untuk menjadikan momen Idul Adha ini sebagai titik balik untuk memperbaiki diri, menyucikan hati, serta mempererat hubungan dengan sesama manusia. Ia mengingatkan kembali bahwa segala kemegahan duniawi bersifat sementara dan tidak akan dibawa hingga ke alam kubur.

 

“Mari di hari raya ini kita saling memaafkan, kita lunakkan hati yang mungkin sempat mengeras, kita kurangi rasa sombong dan bangga diri, serta kita berhenti menyakiti hati sesama. Karena pada akhirnya yang akan menemani kita di alam kubur bukanlah mobil, jabatan, jumlah pengikut, ataupun tepuk tangan manusia. Tetapi doa anak yang saleh, amal yang ikhlas semata karena Allah, dan hati yang senantiasa bersih.”

 

Pesan khutbah yang penuh hikmah ini kemudian ditutup dengan doa permohonan ampun bagi diri sendiri dan seluruh umat yang hadir:

 

“وَلَكُمْ مِنِّي اللَّهُ وَأَسْتَغْفِرُ هٰذَا قَوْلِي وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ”

(Aqūlu qaulī hādzā wa astaghfirullāha lī wa lakum)

 

Artinya: “Demikianlah yang dapat saya sampaikan, dan saya memohon ampun kepada Allah untuk diri saya sendiri dan untuk kalian semua.”

 

Pemaparan yang menyatukan nilai ajaran agama, refleksi sosial, serta keteladanan sejarah kenabian ini memberikan pemahaman yang lebih luas dan mendalam, bahwa makna Idul Adha yang sejati terletak pada kebersihan hati, ketulusan, dan ketaatan penuh menyerahkan segala hal kepada kehendak Allah SWT.(red)

Related Articles