Tentang DPNPERADI.com
Premium vanilla excellence since 1998 - Crafting exceptional quality through sustainable practices and traditional expertise.
Profil Kami
Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) mulai diperkenalkan ke masyarakat, khususnya kalangan penegak hukum, pada 7 April 2005 di Balai Sudirman, Jakarta Selatan. Acara perkenalan PERADI, selain dihadiri oleh tidak kurang dari 600 advokat se-Indonesia, juga diikuti oleh Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia, Jaksa Agung Republik Indonesia, dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Menurut Pasal 32 ayat (4) Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat (UU Advokat), Organisasi Advokat harus terbentuk dalam waktu paling lambat dua tahun sejak undang-undang tersebut diundangkan. Banyak pihak yang meragukan para advokat dapat memenuhi tenggat waktu yang dimaksud oleh undang-undang. Pada kenyataannya, dalam waktu sekitar 20 bulan sejak diundangkannya UU Advokat atau tepatnya pada 21 Desember 2004, advokat Indonesia sepakat untuk membentuk PERADI. Kesepakatan untuk membentuk PERADI diawali dengan proses panjang. Pasal 32 ayat (3) UU Advokat menyatakan bahwa untuk sementara tugas dan wewenang Organisasi Advokat dijalankan bersama-sama oleh Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN), Asosiasi Advokat Indonesia (AAI), Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (IPHI), Himpunan Advokat dan Pengacara Indonesia (HAPI), Serikat Pengacara Indonesia (SPI), Asosiasi Konsultan Hukum Indonesia (AKHI), Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal (HKHPM) dan Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia (APSI). Untuk menjalankan tugas yang dimaksud, kedelapan organisasi advokat di atas, pada 16 Juni 2003, setuju memakai nama Komite Kerja Advokat Indonesia (KKAI).
Sebelum pada akhirnya sepakat membentuk PERADI, KKAI telah menyelesaikan sejumlah persiapan. Pertama yaitu melakukan verifikasi untuk memastikan nama dan jumlah advokat yang masih aktif di Indonesia. Proses verifikasi sejalan dengan pelaksanaan Pasal 32 ayat (1) UU Advokat yang menyatakan bahwa advokat, penasihat hukum, dan konsultan hukum yang telah diangkat saat berlakunya undang-undang tersebut dinyatakan sebagai advokat sebagaimana diatur undang-undang. Sebanyak 15.489 advokat dari 16.257 pemohon dinyatakan memenuhi persyaratan verifikasi. Para advokat tersebut telah menjadi anggota PERADI lewat keanggotan mereka dalam delapan organisasi profesional yang tergabung dalam KKAI. Sebagian bagian dari proses verifikasi, dibentuk pula sistem penomoran keanggotaan advokat untuk lingkup nasional yang juga dikenal dengan Nomor Registrasi Advokat. Selanjutnya, kepada mereka yang lulus persyaratan verifikasi juga diberikan Kartu Tanda Pengenal Advokat (KTPA). Di masa lalu, KTPA diterbitkan oleh pengadilan tinggi dimana advokat yang bersangkutan berdomisili. Peluncuran KTPA sebagaimana dimaksud dilakukan pada 30 Maret 2004 di Ruang Kusumah Atmadja, Mahkamah Agung Republik Indonesia. Persiapan kedua adalah pembentukan Komisi Organisasi dalam rangka mempersiapkan konsep Organisasi Advokat yang sesuai dengan situasi dan kondisi di Indonesia. Kertas kerja dari Komisi Organisasi kemudian dijadikan dasar untuk menentukan bentuk dan komposisi Organisasi Advokat yang dapat diterima oleh semua pihak. Persiapan lain yang telah dituntaskan KKAI adalah pembentukan Komisi Sertifikasi. Komisi ini mempersiapkan hal-hal menyangkut pengangkatan advokat baru. Untuk dapat diangkat menjadi advokat, selain harus lulus Fakultas Hukum, UU Advokat mewajibkan setiap calon advokat mengikuti pendidikan khusus, magang selama dua tahun di kantor advokat, dan lulus ujian advokat yang diselenggarakan Organisasi Advokat. Peraturan untuk persyaratan di atas dipersiapkan oleh komisi ini.
Setelah pembentukannya, PERADI telah menerapkan beberapa keputusan mendasar. Pertama, PERADI telah merumuskan prosedur bagi advokat asing untuk mengajukan rekomendasi untuk bekerja di Indonesia. Kedua, PERADI telah membentuk Dewan Kehormatan Sementara yang berkedudukan di Jakarta dan dalam waktu dekat akan membentuk Dewan Kehormatan tetap. Pembentukan Dewan Kehormatan di daerah lain saat ini menjadi prioritas PERADI. Ketiga, PERADI telah membentuk Komisi Pendidikan Profesi Advokat Indonesia (KP2AI). Komisi ini bertanggung jawab seputar ketentuan pendidikan khusus bagi calon advokat serta pendidikan hukum berkelanjutan bagi advokat. Baik KKAI maupun PERADI telah menyiapkan bahan-bahan dasar untuk digunakan PERADI untuk meningkatkan manajemen advokat di masa yang akan datang. Penting pula untuk dicatat bahwa hingga saat ini seluruh keputusan, termasuk keputusan untuk membentuk PERADI dan susunan badan pengurusnya, telah diambil melalui musyawarah untuk mencapai kesepakatan berdasarkan paradigma advokat Indonesia. Meski usia PERADI masih belia, namun dengan restu dari semua pihak, PERADI berharap dapat menjadi organisasi advokat yang bebas dan independen, melayani untuk melindungi kepentingan pencari keadilan, dan menjalankan tugas sebaik-baiknya untuk melayani para anggotanya.
Visi & Misi
Komitmen kami dalam menghadirkan informasi hukum terpercaya.
Misi Kami
- Penguatan Profesi: Meningkatkan kapasitas, integritas, dan profesionalisme anggota melalui pendidikan berkelanjutan. - Perlindungan Hukum: Memberikan perlindungan hukum kepada anggota dalam menjalankan tugas profesinya. - Keadilan Sosial: Melayani masyarakat pencari keadilan, khususnya kelompok miskin dan termarjinalkan, melalui bantuan hukum gratis (pro bono). - Tata Kelola: Mewujudkan organisasi yang modern, transparan, dan demokratis. - Sinergi: Menjalin kerjasama dengan aparat penegak hukum lainnya untuk menegakkan supremasi hukum.
Visi Kami
Menjadi organisasi advokat yang unggul, terpercaya, profesional, dan independen di tingkat nasional maupun internasional.
Nilai-Nilai Kami
Prinsip yang kami pegang dalam menjalankan media.
1. Integritas dan Etika Profesi
PERADI menekankan bahwa kejujuran dan integritas adalah modalitas awal bagi setiap advokat. - Kejujuran: Advokat diharapkan menjalankan tugasnya dengan jujur demi tercapainya peradilan yang adil. - Kode Etik: Setiap anggota wajib mematuhi Kode Etik Advokat Indonesia (KEAI) sebagai standar moral tertinggi. - Zero KKN: Dalam proses penyaringan anggota (ujian profesi), PERADI berkomitmen menjaga netralitas dan menghindari praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).
2. Independensi (Kebebasan)
Nilai ini sangat krusial agar advokat dapat membela kliennya tanpa tekanan dari pihak mana pun. - Hak Imunitas: Advokat memiliki hak imunitas untuk tidak dapat dituntut saat menjalankan pembelaan sesuai kode etik dan peraturan yang berlaku. - Bebas Berpendapat: Bebas menyatakan pendapat dalam membela perkara yang menjadi tanggung jawabnya di persidangan. - Sistem Single Bar: PERADI konsisten mempertahankan sistem wadah tunggal (single bar) untuk menjaga standar kualitas dan independensi profesi secara nasional.
3. Kualitas dan Profesionalisme
PERADI memandang bahwa advokat yang berkualitas hanya lahir dari sistem pendidikan dan penyaringan yang benar. - Mutu Standar Profesi: Terus meningkatkan standar melalui Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) dan Ujian Profesi Advokat (UPA) yang terukur. - Objektivitas: Penentuan kelulusan calon anggota dilakukan secara objektif berdasarkan ambang batas nilai (passing grade) yang ketat.
4. Perlindungan Pencari Keadilan
Tujuan akhir dari semua nilai tersebut adalah untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat yang mencari keadilan serta mewujudkan sistem peradilan yang jujur.
Value 5
Description for value 5
Value 6
Description for value 6
Operasional & Redaksi
Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (DPN PERADI) terdiri dari jajaran pengurus pusat yang dipimpin oleh Ketua Umum, Wakil Ketua Umum/Ketua Harian, Sekretaris Jenderal, Bendahara Umum, serta dilengkapi berbagai bidang, Dewan Penasihat, Dewan Pakar, Dewan Kehormatan Pusat, dan Komisi Pengawas
Tim Profesional
Didukung oleh tim redaksi yang berpengalaman di bidang jurnalistik dan hukum.
Jaringan Luas
Memiliki jaringan kontributor di berbagai daerah di Indonesia.
Konten Berkualitas
Fokus pada kualitas berita yang informatif dan terpercaya.